Stress

Dalam kehidupan, stres adalah sebuah konsep tentang kondisi yang dapat digambarkan sebagai: 

“perasaan tegang dan tertekan, rasa cemas dan merasa kewalahan, lekas marah, rasa tidak aman, mudah menjadi gugup, nafsu makan hilang, mudah terserang panik, kelelahan, tekanan darah tinggi atau rendah, berakibat pada masalah kulit, insomnia, kurangnya hasrat seksual ( atau dapat menjadi disfungsi seksual), migrain, masalah gastrointestinal (konstipasi atau diare), dan masalah  menstruasi (wanita), juga dapat menyebabkan kondisi yang lebih serius seperti masalah jantung”

Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa sejumlah stres (dalam taraf tertentu) dapat juga bermanfaat, diharapkan, bahkan bisa membantu kesehatan. Itu yang dimaksud dengan stress positif, yang dapat membantu performa sekaligus meningkatkan motivasi, kemampuan adaptasi, dan reaksi terhadap lingkungan. Akan tetapi tingkat stres yang berlebihan juga dapat berdampak buruk bagi tubuh.

Stress dapat disebabkan oleh faktor eksternal terkait dengan lingkungan, namun juga bisa berasal dari internal, seperti persepsi diri yang membawa kepada emosi negative, misalnya kecemasan. Biasanya emosi yang berlebihan terhadap suatu situasi seperti perasaan tertekan atau merasa tidak nyaman.

Definisi umum:

Stress merupakan suatu kondisi tertekan secara psikis. Individu secara umum akan mengalami stress untuk kondisi-kondisi sebagai berikut;

  1. Melihat sesuatu sebagai ancaman, atau ketika;
  2. Kita tidak percaya bahwa diri kita mampu mengatasi hambatan tersebut. Juga ketika;
  3. Kita berpikir bahwa kita mendapat tuntutan yang melebihi kemampuan kita sendiri.

Tahapan Terjadinya Stres

Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat, dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah, di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. Dr. Robert J. Amberg (dalam Hawari, 2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :

1. Stres tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut:

  1. Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting);

  2. Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya;

  3. Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya, namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis.

2. Stres tahap II
Dalam tahapan ini 
dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang, dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut:

  1. Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar;

  2. Merasa mudah lelah sesudah makan siang;

  3. Lekas merasa capai menjelang sore hari;

  4. Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort);

  5. Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar);

  6. Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang;

  7. Tidak bisa santai. 

3. Stres Tahap III
Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu:

  1. Gangguan lambung dan usus semakin nyata; misalnya “maag”(gastritis), BAB tidak teratur (diare);

  2. Ketegangan otot-otot semakin terasa;

  3. Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat;

  4. Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia), atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia), atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia);

  5. Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa loyo dan serasa mau pingsan). Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit.

4. Stres Tahap IV

  1. Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit;

  2. Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit;

  3. Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (in-adequate);

  4. Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari;

  5. Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan; Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan;

  6. Daya konsentrasi daya ingat menurun;

  7. Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya. 

5. Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:

  1. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion);

  2. Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan dan sederhana;

  3. Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder);

  4. Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin meningkat, mudah bingung dan panik.

6. Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU, meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut:

  1. Debaran jantung teramat keras;

  2. Susah bernapas (sesak dan megap-megap);

  3. Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat bercucuran;

  4. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan;

  5. Pingsan atau kolaps (collapse). Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh, sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.

> Tahapan setelah tahap 6 (tahap VII) adalah fase Depresi

Mengukur tingkat stress